
Kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan telah menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat di negara tetangga. Malaysia melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah penderita penyakit pernapasan.
Fenomena ini terjadi akibat tiupan angin yang membawa partikel-partikel berbahaya dari titik-titik api di Kalimantan melintasi perbatasan. Konsentrasi polutan di udara yang tinggi membuat warga Malaysia, khususnya di wilayah barat, rentan terhadap gangguan kesehatan.
Lonjakan Kasus ISPA di Malaysia
Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat bahwa kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengalami kenaikan drastis dalam beberapa pekan terakhir. Rumah sakit dan klinik kesehatan kebanjiran pasien yang mengeluhkan batuk, sesak napas, dan iritasi tenggorokan.
Kelompok yang paling terdampak adalah anak-anak, lansia, serta individu dengan riwayat penyakit paru-paru kronis. Pemerintah setempat mengimbau warganya untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat berpergian.
Upaya Penanganan Karhutla
Pemerintah Indonesia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terus berupaya memadamkan api di sejumlah titik karhutla di Kalimantan. Teknik modifikasi cuaca dengan membuat hujan buatan juga digalakkan untuk mempercepat proses pemadaman.
Selain itu, patroli terpadu dilakukan untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar. Kerja sama bilateral dengan Malaysia dan negara tetangga lainnya juga diintensifkan untuk mengatasi dampak lintas batas dari kabut asap ini.
Masyarakat diimbau untuk selalu memantau kualitas udara di wilayah masing-masing dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan.