
Kota Cirebon mencatat temuan sebanyak 195 kasus HIV hingga saat ini. Angka tersebut diperoleh dari hasil skrining yang masih berlangsung dan belum mencapai target keseluruhan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. Edy Suharto, menjelaskan bahwa skrining HIV terus dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan. Namun, proses deteksi masih setengah jalan karena keterbatasan partisipasi masyarakat dan sumber daya.
“Kami sudah melakukan skrining pada sejumlah kelompok berisiko, tetapi masih banyak yang belum terdeteksi. Kami targetkan skrining bisa menjangkau lebih banyak warga,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Data menunjukkan bahwa kasus HIV paling banyak ditemukan pada usia produktif, yaitu 20-49 tahun. Faktor utama penularan adalah hubungan seksual tidak aman dan penggunaan jarum suntik bersama.
Dinkes Cirebon mengimbau masyarakat untuk melakukan tes HIV secara sukarela dan rutin. “Semakin cepat diketahui, semakin baik penanganannya. Jangan takut, tes HIV bersifat rahasia dan gratis di puskesmas,” tambah dr. Edy.
Pemerintah kota juga menggandeng komunitas dan organisasi non-pemerintah untuk memperluas edukasi dan layanan skrining. Langkah ini diharapkan bisa menekan angka penularan dan meningkatkan kualitas hidup ODHA.
Hingga berita ini diturunkan, total kasus HIV di Cirebon mencapai 195, dengan 30 di antaranya sudah memasuki tahap AIDS. Skrining masih terus berjalan untuk menemukan kasus tersembunyi.