
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini merilis temuan yang cukup mengkhawatirkan terkait penggunaan rokok elektrik atau vape. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh pengguna vape, yaitu 100 persen, mengalami peningkatan risiko terkena diabetes. Selain itu, sebanyak 92 persen pengguna juga dilaporkan memiliki masalah pada paru-paru mereka.
Penelitian ini menyoroti dampak buruk yang ditimbulkan oleh kebiasaan menghisap vape, yang selama ini kerap dianggap sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok tembakau. Padahal, kandungan zat kimia dalam cairan vape ternyata tidak kalah berbahaya bagi tubuh.
Risiko Diabetes pada Pengguna Vape
Data dari BRIN mengindikasikan bahwa semua partisipan dalam studi tersebut, yang merupakan pengguna vape aktif, menunjukkan tanda-tanda awal diabetes atau bahkan telah didiagnosis menderita penyakit tersebut. Hal ini dikaitkan dengan gangguan metabolisme glukosa yang dipicu oleh senyawa tertentu dalam uap vape.
Para peneliti menduga bahwa bahan kimia seperti propilen glikol dan gliserin nabati yang dipanaskan dapat memicu resistensi insulin. Akibatnya, kadar gula darah sulit dikendalikan dan berujung pada diabetes tipe 2.
Kerusakan Paru-Paru Akibat Vape
Selain diabetes, masalah pernapasan juga menjadi sorotan utama. Sebanyak 92 persen pengguna vape dalam penelitian ini mengalami penurunan fungsi paru-paru. Beberapa di antaranya bahkan mengidap penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan bronkitis kronis.
Partikel halus dari uap vape dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan menyebabkan peradangan. Dalam jangka panjang, hal ini merusak jaringan paru-paru dan menghambat kemampuan tubuh untuk menyerap oksigen secara optimal.
Temuan ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak terjebak dalam anggapan bahwa vape adalah pilihan yang lebih sehat. BRIN menegaskan bahwa dampak negatif vape terhadap kesehatan sangat nyata dan tidak bisa dianggap remeh.