
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat defisit sebesar Rp 37 triliun akibat tingginya biaya penanganan penyakit stroke. Angka ini menjadi perhatian serius bagi para pemangku kepentingan di sektor kesehatan.
Menanggapi situasi tersebut, Yayasan Dokter Kepedulian Indonesia (YDKI) bekerja sama dengan Rumah Sakit Primaya Bekasi Barat meresmikan Klub Stroke ke-44. Langkah ini diharapkan dapat membantu pasien stroke dalam proses pemulihan dan mengurangi beban biaya kesehatan.
Klub Stroke merupakan wadah bagi para penyintas stroke untuk mendapatkan edukasi, terapi, dan dukungan psikologis. Program ini juga bertujuan mencegah kekambuhan stroke melalui pola hidup sehat dan pengawasan medis rutin.
Mengapa Stroke Menjadi Beban Besar BPJS?
Stroke adalah penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia. Biaya perawatan yang mahal, mulai dari penanganan akut hingga rehabilitasi jangka panjang, menyebabkan lonjakan klaim BPJS. Data menunjukkan bahwa stroke menyumbang proporsi signifikan dari total defisit BPJS.
Peran Klub Stroke dalam Menekan Biaya
Melalui Klub Stroke, pasien mendapatkan pemantauan kesehatan secara berkala, termasuk kontrol tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol. Edukasi tentang pentingnya olahraga teratur dan diet seimbang juga diberikan. Dengan demikian, risiko stroke berulang dapat diminimalkan, sehingga biaya perawatan jangka panjang bisa ditekan.
- Edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga
- Terapi fisik dan okupasi secara berkala
- Dukungan psikologis untuk mengatasi stres pasca-stroke
- Pemantauan faktor risiko secara intensif
YDKI dan Primaya Bekasi Barat berharap klub ini dapat menjadi model bagi daerah lain untuk mengelola pasien stroke secara lebih efektif dan efisien. Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengendalikan defisit BPJS melalui pencegahan dan manajemen penyakit kronis.