
Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 441 kasus HIV/AIDS terdeteksi di wilayahnya. Angka ini mendorong pemkot untuk memperluas program skrining, terutama bagi kelompok rentan yang berisiko tinggi tertular virus tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Bontang, dr. Ahmad Junaidi, mengatakan bahwa peningkatan deteksi kasus merupakan langkah awal dalam upaya pengendalian penyebaran HIV. “Dengan skrining yang lebih luas, kami bisa menemukan kasus lebih cepat dan memberikan penanganan yang tepat,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Program skrining akan difokuskan pada kelompok rentan seperti pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik, dan ibu hamil. Selain itu, pemkot juga akan menggandeng organisasi masyarakat untuk menjangkau komunitas yang sulit diakses.
Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa kasus HIV di Bontang didominasi oleh usia produktif, yaitu 20-49 tahun. Penularan terbanyak terjadi melalui hubungan seksual berisiko dan penggunaan jarum suntik bersama.
Pemkot Bontang berkomitmen untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan HIV melalui edukasi dan sosialisasi. Selain itu, pengobatan antiretroviral (ARV) juga disediakan secara gratis bagi pasien yang terdeteksi positif.
Langkah ini diharapkan dapat menekan angka penularan baru dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bontang.