
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan semakin meluas dan tak terkendali. Dampaknya, kualitas udara di Kota Banjarbaru memburuk drastis, memicu lonjakan signifikan jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan setempat, angka kasus ISPA di Banjarbaru kini telah menembus angka 21 ribu. Jumlah ini meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir seiring dengan intensitas kabut asap yang semakin pekat. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan tenaga kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru menjelaskan bahwa mayoritas penderita adalah anak-anak dan lansia, yang merupakan kelompok rentan terhadap gangguan pernapasan. Gejala yang paling umum dilaporkan meliputi batuk, pilek, sesak napas, dan iritasi tenggorokan. Banyak warga juga mengeluhkan mata perih dan gangguan penglihatan akibat paparan asap.
Pemerintah setempat telah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat bepergian, dan memasang alat pembersih udara di dalam rumah. Selain itu, posko kesehatan darurat telah didirikan di beberapa titik untuk memberikan pelayanan gratis bagi warga yang mengalami gejala ISPA.
Upaya pemadaman Karhutla terus dilakukan oleh tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan. Namun, cuaca panas dan angin kencang menyulitkan proses pemadaman. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, karena dapat memperparah situasi.
Dengan lonjakan kasus yang terus terjadi, kewaspadaan dan kerjasama semua pihak sangat diperlukan untuk menekan dampak buruk Karhutla terhadap kesehatan masyarakat.