
Sebanyak 237 siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala mual dan pusing setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Palupuh, Sumatera Barat. Kejadian ini mendorong Gubernur setempat untuk meminta SPPG (Satuan Pendidikan dan Pelayanan Gizi) Palupuh menghentikan sementara operasionalnya.
Menurut keterangan dari Dinas Kesehatan setempat, para korban mulai merasakan keluhan tersebut beberapa saat setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program MBG. Gejala yang muncul bervariasi, mulai dari mual, pusing, hingga ada yang mengalami muntah. Tim medis segera turun ke lokasi untuk memberikan penanganan awal dan memantau kondisi para korban.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, langsung merespons cepat dengan memerintahkan SPPG Palupuh untuk menghentikan sementara kegiatan distribusi makanan. “Kami utamakan keselamatan dan kesehatan siswa serta guru. Untuk sementara, program MBG di Palupuh dihentikan dulu sampai penyebab pasti kejadian ini diketahui,” ujar Mahyeldi dalam keterangan persnya.
Pemerintah daerah bersama tim ahli dari Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium. Hasil uji sementara menunjukkan adanya dugaan kontaminasi bakteri atau zat berbahaya lainnya, namun masih menunggu hasil akhir untuk memastikan penyebab pastinya.
Orang tua siswa yang anaknya mengalami gejala mengaku khawatir dan mendukung langkah penghentian sementara program MBG. Mereka berharap investigasi dapat berjalan transparan dan cepat sehingga kejadian serupa tidak terulang. “Kami sangat khawatir, apalagi anak saya masih sekolah. Semoga cepat diketahui penyebabnya dan program bisa berjalan lebih aman ke depannya,” ujar salah satu orang tua.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sendiri merupakan inisiatif pemerintah daerah untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Namun, insiden ini menjadi sorotan dan menimbulkan pertanyaan mengenai standar keamanan pangan dalam pelaksanaannya. Pemerintah berjanji akan mengevaluasi seluruh rantai pasok dan proses penyajian makanan sebelum program kembali dilanjutkan.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi para siswa dan guru yang menjadi korban berangsur membaik dan sebagian besar sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan medis. Pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kasus ini dan memberikan informasi lebih lanjut setelah hasil laboratorium keluar.