Kisah Haru Siti, Sang Penyadap Karet: Nafkah Keluarga dari Upah Rp200.000 Seminggu Usai Suami Stroke

Home blog Kisah Haru Siti, Sang Penyadap Karet: Nafkah Keluarga dari Upah Rp200.000 Seminggu Usai Suami Stroke
Kisah Haru Siti, Sang Penyadap Karet: Nafkah Keluarga dari Upah Rp200.000 Seminggu Usai Suami Stroke
Kisah Haru Siti, Sang Penyadap Karet: Nafkah Keluarga dari Upah Rp200.000 Seminggu Usai Suami Stroke

Siti, seorang ibu rumah tangga di pedalaman, harus gigih berjuang menghidupi keluarganya setelah suami tercinta terserang stroke. Dengan upah sekitar Rp200.000 per pekan, ia mengandalkan pekerjaan sebagai penyadap karet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebelum suami jatuh sakit, keluarga ini hidup berkecukupan dari hasil kebun karet milik mereka. Namun, musibah stroke yang menyerang sang suami membuatnya tak lagi mampu bekerja. Kini, Siti lah yang menjadi tulang punggung satu-satunya.

Setiap hari, Siti harus bangun sebelum subuh untuk menuju ke kebun karet. Ia menyadap getah karet dengan alat sederhana, lalu mengumpulkan hasilnya dalam wadah. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran, karena getah harus ditampung dengan benar agar tidak terbuang percuma.

Dari hasil menyadap, Siti hanya bisa membawa pulang sekitar Rp200.000 setiap minggu. Uang sebesar itu harus cukup untuk membeli beras, lauk pauk, minyak goreng, serta kebutuhan pokok lainnya. Tak jarang, ia harus memutar otak agar uang tersebut bisa mencukupi hingga akhir pekan.

“Saya harus pandai-pandai mengatur uang. Kadang, saya beli beras yang agak murah, atau saya masak sayur seadanya. Yang penting anak-anak bisa makan,” ujar Siti lirih.

Kondisi suami yang lumpuh setengah badan juga membutuhkan perawatan ekstra. Siti harus membantu suami mandi, makan, dan minum obat. Meski lelah, ia tak pernah mengeluh. “Saya ikhlas, karena ini suami saya. Saya hanya ingin dia cepat sembuh,” katanya.

Kisah Siti ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya perjuangan seorang istri yang harus menjadi tulang punggung keluarga di tengah keterbatasan. Meski upah yang diterima tak seberapa, semangatnya tak pernah padam untuk terus berusaha demi masa depan anak-anaknya.

Semoga kisah Siti bisa menginspirasi kita semua untuk lebih bersyukur dan peduli terhadap sesama.