
Dalam kongres terbaru mengenai penyakit infeksi pada anak, para ahli kesehatan menyoroti bahaya nyata dari resistensi antimikroba (AMR). Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat mengancam efektivitas pengobatan berbagai penyakit infeksi pada anak-anak.
Resistensi antimikroba terjadi ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit berubah menjadi kebal terhadap obat-obatan yang sebelumnya efektif untuk membunuh mereka. Hal ini membuat pengobatan menjadi lebih sulit dan seringkali membutuhkan obat yang lebih mahal atau bahkan tidak tersedia.
Para spesialis menekankan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat, seperti meminum obat tanpa resep atau tidak menghabiskan dosis yang diresepkan, menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya resistensi. Selain itu, penggunaan antibiotik yang berlebihan di sektor peternakan juga turut berkontribusi terhadap penyebaran bakteri resisten.
Dalam kongres tersebut, dibahas pula strategi untuk mengendalikan AMR, antara lain dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan antibiotik yang bijak, memperkuat sistem pengawasan penggunaan obat, serta mendorong penelitian untuk pengembangan antibiotik baru.
Para ahli mengingatkan bahwa jika tidak ditangani serius, resistensi antimikroba dapat membuat prosedur medis rutin seperti operasi, kemoterapi, atau perawatan bayi prematur menjadi sangat berisiko karena infeksi yang tidak dapat diobati. Oleh karena itu, kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memerangi ancaman ini.