
Dinas Kesehatan Kota Tangerang melaporkan adanya 203 kasus baru HIV pada awal tahun 2026. Data ini menunjukkan bahwa penularan virus tersebut paling banyak terjadi di kalangan laki-laki yang berhubungan sesama jenis (LSL) atau komunitas gay.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, mengungkapkan bahwa dari total kasus baru tersebut, lebih dari separuhnya berasal dari kelompok LSL. Ia menjelaskan bahwa faktor risiko utama adalah perilaku seksual tidak aman tanpa menggunakan kondom.
“Sebagian besar kasus baru HIV ini ditemukan pada kelompok gay. Hal ini menjadi perhatian serius bagi kami untuk terus menggencarkan edukasi dan pencegahan,” ujar dr. Dini dalam keterangannya, Selasa (12/1/2026).
Selain kelompok gay, kasus HIV juga ditemukan pada kelompok heteroseksual, pengguna narkoba suntik (penasun), dan ibu rumah tangga. Namun, angka tertinggi tetap pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki.
Dinkes Tangerang terus mengupayakan deteksi dini melalui layanan tes HIV sukarela di seluruh puskesmas dan rumah sakit. Masyarakat diimbau untuk tidak takut memeriksakan diri, karena penanganan dini dapat memperpanjang usia harapan hidup dan menekan risiko penularan.
“Kami juga bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk menjangkau kelompok berisiko tinggi. Edukasi tentang pentingnya penggunaan kondom dan pengurangan jumlah pasangan seksual terus kami galakkan,” tambah dr. Dini.
Data ini menjadi pengingat bahwa HIV masih menjadi ancaman serius di Indonesia, terutama di daerah perkotaan seperti Tangerang. Diperlukan kerja sama semua pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan media, untuk memutus rantai penularan.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan tes HIV, Dinkes Tangerang menyediakan layanan gratis di 38 puskesmas dan 3 rumah sakit umum daerah. Hasil tes dijamin kerahasiaannya.