
Pemerintah Kota Semarang terus menggalakkan program deteksi dini kanker payudara secara cuma-cuma. Langkah ini diambil setelah penyakit tersebut masuk dalam tiga besar kasus kanker yang paling banyak ditemukan di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dr. Mochamad Abdul Hakam, mengungkapkan bahwa angka kejadian kanker payudara masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pihaknya berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan rutin.
“Kanker payudara menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan wanita. Kami ingin masyarakat lebih proaktif dalam memeriksakan diri, sehingga jika ditemukan sejak dini, penanganannya bisa lebih optimal,” ujar Hakam dalam keterangannya.
Program skrining gratis ini menyasar wanita usia 30 hingga 50 tahun. Pemeriksaan dilakukan di puskesmas-puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan di Semarang. Selain itu, petugas kesehatan juga akan melakukan sosialisasi door-to-door untuk menjangkau lebih banyak warga.
Hakam menambahkan, deteksi dini sangat penting karena kanker payudara stadium awal seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Dengan pemeriksaan rutin seperti SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan USG payudara, risiko komplikasi bisa diminimalkan.
Pemkot Semarang menargetkan setidaknya 10.000 wanita dapat mengikuti skrining gratis ini setiap tahunnya. Anggaran untuk program ini berasal dari APBD serta dukungan dari Kementerian Kesehatan.
“Kami berharap dengan adanya program ini, angka kematian akibat kanker payudara di Semarang bisa menurun drastis. Masyarakat juga diimbau untuk segera memeriksakan diri jika menemukan benjolan atau perubahan pada payudara,” pungkas Hakam.