
Sebuah kisah penuh perjuangan datang dari Jember, Jawa Timur. Seorang ibu rumah tangga yang luar biasa tegar dan penuh kasih terpaksa mengais rezeki sebagai buruh tebangan tebu. Semua ia lakukan demi menopang kehidupan keluarganya, terutama sang suami yang kini terbaring lemah akibat stroke.
Perempuan tangguh tersebut sehari-hari harus bekerja di bawah terik matahari, memotong dan mengangkut batang-batang tebu yang berat. Pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh pria ini ia jalani dengan ikhlas dan penuh semangat. Tak ada keluhan yang terucap, yang ada hanyalah tekad baja untuk terus berjuang.
Suami yang dulunya menjadi tulang punggung keluarga kini tak mampu lagi bekerja. Kondisi stroke yang dideritanya membuat ia lumpuh dan membutuhkan perawatan intensif. Dengan kondisi tersebut, sang istri harus merangkap sebagai pencari nafkah utama sekaligus perawat setia di rumah.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, ia sudah berangkat ke ladang tebu. Dengan sabit di tangan dan tubuh yang mulai letih, ia bergabung dengan para buruh lainnya. Upah yang ia terima memang tidak seberapa, namun cukup untuk membeli obat-obatan suami dan kebutuhan pokok sehari-hari.
Warga sekitar pun tak henti-hentinya memuji kegigihan perempuan ini. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana ia tak pernah mengeluh meski harus pulang dengan tubuh penuh pegal dan luka. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahwa cinta dan tanggung jawab mampu mengalahkan rasa lelah dan putus asa.
Meski hidup dalam keterbatasan, perempuan ini tetap tersenyum. Baginya, kebahagiaan sejati adalah ketika ia bisa melihat suaminya tersenyum, meski hanya dari balik ranjang. Ia yakin, di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah dan jalan keluar.