
Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., menyampaikan pandangannya mengenai kompleksitas pengelolaan institusi pendidikan tinggi. Ia mengungkapkan bahwa tugas mengurus universitas saja sudah sangat berat, apalagi jika harus menangani urusan di luar kewenangan utama, seperti masalah MBG.
Beban Berat di Balik Kursi Rektor
Dalam sebuah kesempatan, Prof. Gunawan menegaskan bahwa tanggung jawab seorang rektor tidaklah sederhana. Mulai dari urusan akademik, administrasi, hingga pengembangan sumber daya manusia, semuanya memerlukan perhatian penuh. “Mengelola kampus dengan segala dinamikanya sudah membuat kepala pusing, apalagi jika ditambah dengan urusan lain di luar kampus,” ujarnya.
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap isu yang berkembang mengenai keterlibatan perguruan tinggi dalam program MBG. Menurutnya, fokus utama universitas haruslah pada pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menyimpang dari fokus tersebut hanya akan menguras energi dan sumber daya yang seharusnya dimanfaatkan untuk kemajuan akademik.
MBG dan Prioritas Kampus
MBG, yang merupakan singkatan dari suatu program tertentu, dinilai oleh Rektor UMY sebagai hal yang tidak semestinya menjadi prioritas bagi institusi pendidikan. Ia menekankan bahwa sudah banyak tantangan internal yang harus dihadapi, seperti meningkatkan kualitas lulusan, memperbaiki infrastruktur, dan menjaga akreditasi.
“Kami lebih memilih untuk fokus pada apa yang menjadi kompetensi inti kami. Jangan sampai kami terjebak dalam urusan yang tidak kami kuasai, yang pada akhirnya malah merugikan kampus dan mahasiswa,” tambahnya.
Dengan tegas, Prof. Gunawan berharap agar pihak-pihak terkait memahami batasan peran dan tanggung jawab masing-masing institusi. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah universitas tidak diukur dari seberapa banyak urusan eksternal yang ditangani, melainkan dari kontribusinya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.