
Kebiasaan tidur setelah menyantap sahur selama bulan Ramadan ternyata menyimpan risiko kesehatan yang serius. Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) mengingatkan bahwa aktivitas ini dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari penyakit asam lambung (GERD) hingga risiko stroke yang mengancam jiwa.
Mengapa Tidur Setelah Sahur Berbahaya?
Setelah makan, tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan secara optimal. Jika langsung berbaring atau tidur, proses pencernaan akan terganggu. Kondisi ini menyebabkan asam lambung mudah naik ke kerongkongan, memicu sensasi terbakar di dada (heartburn) dan gejala GERD lainnya. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merusak lapisan esofagus.
Tidak hanya itu, tidur setelah sahur juga memengaruhi sirkulasi darah dan metabolisme tubuh. Aliran darah yang seharusnya aktif ke saluran pencernaan menjadi terhambat saat tubuh dalam posisi tidur. Pakar UMSURA menyebutkan bahwa kondisi ini dapat meningkatkan kekentalan darah, yang merupakan salah satu faktor risiko stroke, terutama pada individu yang memiliki hipertensi atau kolesterol tinggi.
Tips Aman Setelah Sahur
Untuk menghindari risiko tersebut, para ahli menyarankan agar tidak langsung tidur setelah sahur. Berikan jeda waktu setidaknya 2-3 jam setelah makan sebelum beristirahat. Selama jeda tersebut, lakukan aktivitas ringan seperti berjalan santai, membaca, atau beribadah untuk membantu proses pencernaan.
Selain itu, perhatikan porsi dan jenis makanan saat sahur. Hindari makanan yang terlalu pedas, berlemak, atau berminyak karena dapat memperburuk produksi asam lambung. Sebaliknya, perbanyak konsumsi serat dari sayur dan buah, serta pastikan asupan air putih cukup agar tubuh tetap terhidrasi.
Dengan menerapkan pola sahur yang sehat, Anda dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih nyaman dan terhindar dari gangguan kesehatan yang serius. Jika Anda sudah memiliki riwayat GERD atau masalah pencernaan lainnya, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan saran yang lebih spesifik.