
Masyarakat adat di Indonesia kini menghadapi tantangan kesehatan yang kian kompleks. Di satu sisi, mereka masih berjuang melawan penyakit menular seperti tuberkulosis dan malaria. Di sisi lain, penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan jantung mulai meningkat tajam di komunitas mereka. Fenomena ini dikenal sebagai beban penyakit ganda atau double burden of disease.
Kondisi ini diperparah oleh akses layanan kesehatan yang terbatas, baik karena faktor geografis maupun kurangnya pemahaman tenaga medis terhadap nilai-nilai budaya setempat. Banyak fasilitas kesehatan yang belum mampu menjangkau daerah terpencil, sementara petugas kesehatan seringkali tidak peka terhadap adat istiadat dan kepercayaan lokal.
Namun, ada secercah harapan. Pendekatan yang menghargai kearifan lokal dan melibatkan tokoh adat dalam program kesehatan terbukti lebih efektif. Misalnya, di beberapa daerah, dukun beranak dilatih menjadi kader kesehatan ibu dan anak. Di tempat lain, ritual adat diintegrasikan ke dalam kampanye imunisasi. Hasilnya, partisipasi masyarakat meningkat drastis.
Para ahli menekankan bahwa keadilan kesehatan tidak bisa dicapai dengan pendekatan seragam. Setiap komunitas adat memiliki keunikan yang harus dipahami dan dihormati. Pemerintah dan organisasi kesehatan didorong untuk mengadopsi model layanan yang sensitif budaya, termasuk melibatkan pemuka adat dalam perencanaan dan pelaksanaan program.
Langkah kecil seperti menyediakan penerjemah bahasa daerah di puskesmas, menyesuaikan jam buka klinik dengan jadwal upacara adat, atau menggunakan media tradisional untuk menyebarkan informasi kesehatan, bisa membuat perbedaan besar. Pada akhirnya, menghargai budaya bukan sekadar soal sopan santun, melainkan kunci untuk membuka pintu layanan kesehatan yang lebih adil dan merata bagi seluruh masyarakat adat Indonesia.