
Samarinda menghadapi tantangan serius dalam penanganan HIV/AIDS. Data terbaru menunjukkan jumlah kasus HIV di kota ini telah menembus angka 4.000 orang. Namun, yang memprihatinkan adalah hanya separuh dari penderita yang menjalani pengobatan secara rutin.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr. Ismid Hariyanto, mengungkapkan bahwa hingga saat ini tercatat 4.012 kasus HIV di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, baru sekitar 2.000 penderita yang aktif mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Sisanya masih enggan atau belum mendapatkan akses pengobatan yang memadai.
“Kami terus berupaya menjangkau mereka yang belum berobat. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, mulai dari stigma sosial, kurangnya kesadaran, hingga kendala akses ke layanan kesehatan,” ujar dr. Ismid dalam keterangannya, Jumat (10/11/2023).
Ia menambahkan, pengobatan ARV sangat penting untuk menekan jumlah virus dalam tubuh penderita. Dengan teratur minum obat, penderita bisa hidup produktif dan mengurangi risiko penularan ke orang lain. Sayangnya, masih ada anggapan keliru di masyarakat bahwa HIV adalah vonis mati.
Dinas Kesehatan Samarinda gencar melakukan sosialisasi dan edukasi tentang HIV/AIDS. Mereka juga bekerja sama dengan berbagai komunitas dan lembaga swadaya masyarakat untuk mendekati penderita yang belum terobati. Layanan tes HIV gratis juga disediakan di puskesmas dan rumah sakit di seluruh Samarinda.
“Kami imbau masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penanganannya. Jangan biarkan penyakit ini berkembang tanpa kendali,” pungkas dr. Ismid.
Data ini menjadi pengingat bahwa perang melawan HIV/AIDS masih panjang. Diperlukan kerja sama semua pihak untuk memutus rantai penularan dan memastikan setiap penderita mendapatkan perawatan yang layak.