
Pemerintah Kota Pangkalpinang terus menggencarkan program pembinaan mental dan spiritual sebagai langkah strategis untuk mencegah perilaku menyimpang, termasuk LGBT, serta menekan angka penularan HIV di wilayahnya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga moral generasi muda dan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Fokus pada Generasi Muda
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Pangkalpinang, Hj. Masjuna, menyatakan bahwa pembinaan mental ini menyasar kalangan remaja dan pemuda. Mereka dinilai sebagai kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh negatif pergaulan bebas.
“Kami bekerja sama dengan tokoh agama, psikolog, dan tenaga kesehatan untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai nilai-nilai moral, bahaya HIV/AIDS, serta dampak buruk LGBT,” ujar Masjuna dalam keterangannya, Rabu (12/3).
Program Pembinaan Berkelanjutan
Program ini tidak hanya dilakukan secara insidental, tetapi dirancang berkelanjutan melalui kegiatan di sekolah, komunitas, dan tempat ibadah. Materi yang diberikan meliputi pendidikan karakter, kesehatan reproduksi, serta bahaya penyalahgunaan narkoba yang kerap menjadi pintu masuk perilaku berisiko.
Selain itu, pemkot juga mengoptimalkan peran keluarga sebagai benteng pertama dalam membentuk kepribadian anak. Orang tua diajak untuk lebih aktif memantau pergaulan anak dan memberikan edukasi sejak dini.
Kolaborasi dengan Berbagai Pihak
Dalam pelaksanaannya, pemkot menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pangkalpinang, Dinas Kesehatan, serta organisasi kemasyarakatan. Sinergi ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak sasaran dan memberikan dampak nyata dalam menekan angka kasus baru HIV serta mencegah meluasnya perilaku LGBT.
“Kami juga melakukan sosialisasi tentang pentingnya deteksi dini HIV melalui tes sukarela dan konseling. Semua dilakukan tanpa stigma, karena yang kami lawan adalah virusnya, bukan orangnya,” tambah Masjuna.
Hasil yang Diharapkan
Pemkot Pangkalpinang menargetkan penurunan signifikan kasus HIV dalam dua tahun ke depan serta terbentuknya generasi muda yang tangguh secara mental dan spiritual. Dengan pembinaan yang masif, diharapkan muncul kesadaran kolektif untuk menjauhi perilaku berisiko dan lebih peduli terhadap kesehatan.
“Kami optimis, dengan kerja sama semua pihak, Pangkalpinang bisa menjadi kota yang lebih sehat dan bermoral,” pungkasnya.