
Long Island, New York, baru-baru ini melaporkan kasus penyakit langka yang dikenal sebagai demam kelinci atau tularemia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis dan dapat ditularkan melalui gigitan kutu, kontak dengan hewan yang terinfeksi, atau menghirup partikel bakteri.
Apa Itu Demam Kelinci?
Demam kelinci adalah infeksi bakteri yang menyerang berbagai hewan liar, terutama kelinci dan hewan pengerat. Manusia dapat tertular melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, gigitan kutu atau lalat rusa, atau menghirup debu yang terkontaminasi bakteri.
Gejala Demam Kelinci
Gejala biasanya muncul dalam 3-5 hari setelah terpapar bakteri, namun bisa juga memakan waktu hingga 14 hari. Beberapa gejala umum meliputi:
- Demam tinggi mendadak
- Menggigil
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Nyeri sendi
- Kelelahan ekstrem
- Pembengkakan kelenjar getah bening di dekat lokasi gigitan atau masuknya bakteri
Penularan dan Pencegahan
Penyakit ini tidak menular dari manusia ke manusia. Pencegahan terbaik adalah menghindari gigitan kutu dan kontak dengan hewan yang berpotensi terinfeksi. Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan:
- Gunakan pakaian pelindung saat berada di area berhutan atau berumput tinggi
- Oleskan obat anti-kutu pada kulit dan pakaian
- Periksa tubuh secara menyeluruh setelah beraktivitas di luar ruangan
- Hindari memegang hewan liar, terutama kelinci dan hewan pengerat yang tampak sakit atau mati
- Kenakan sarung tangan saat menangani hewan mati
Pengobatan dan Prognosis
Demam kelinci dapat diobati dengan antibiotik. Jika ditangani dengan cepat dan tepat, prognosisnya sangat baik. Namun, tanpa pengobatan, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, meningitis, atau infeksi pada organ vital.
Masyarakat diimbau untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala yang mencurigakan, terutama setelah beraktivitas di area yang berpotensi terdapat hewan terinfeksi.