
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Gaza mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi sistem kesehatan yang semakin memprihatinkan. Mereka menyoroti bahwa persediaan obat-obatan untuk pasien kanker telah menipis hingga 61 persen, sementara fasilitas laboratorium di wilayah tersebut juga mengalami kekurangan yang parah, mencapai 85 persen.
Dalam laporan terbarunya, Kemenkes Gaza menjelaskan bahwa situasi ini merupakan dampak dari blokade yang berkepanjangan dan kurangnya akses terhadap pasokan medis yang sangat dibutuhkan. Kekurangan ini tidak hanya mengancam nyawa pasien kanker, tetapi juga menghambat upaya diagnosis dan pengobatan penyakit lainnya.
“Kami berada dalam kondisi darurat yang sangat kritis. Obat-obatan untuk pasien kanker hampir habis, dan laboratorium kami tidak mampu beroperasi secara optimal karena kekurangan reagen dan peralatan,” ujar seorang juru bicara Kemenkes Gaza.
Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya jumlah tenaga medis yang tersedia, serta banyaknya fasilitas kesehatan yang rusak akibat konflik. Masyarakat Gaza, terutama mereka yang menderita penyakit kronis, kini menghadapi ketidakpastian yang sangat besar dalam mendapatkan perawatan yang layak.
Kemenkes Gaza menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera memberikan bantuan kemanusiaan, khususnya dalam bentuk obat-obatan, peralatan medis, dan dukungan untuk rehabilitasi fasilitas kesehatan. Mereka menekankan bahwa tanpa tindakan cepat, jumlah korban jiwa akibat penyakit yang seharusnya dapat diobati akan terus meningkat.