
Sebanyak 22.000 peserta BPJS Kesehatan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendadak dinyatakan nonaktif. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi pasien gagal ginjal yang sangat bergantung pada layanan cuci darah.
Menurut data yang dihimpun, kepesertaan mereka dinonaktifkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Akibatnya, sejumlah pasien gagal ginjal terancam tidak bisa menjalani terapi hemodialisis rutin yang sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, mengonfirmasi bahwa puluhan ribu peserta tersebut nonaktif karena berbagai alasan. Mulai dari tunggakan iuran hingga ketidaksesuaian data. Namun, ia menegaskan bahwa pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal tetap harus mendapat prioritas.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan dan rumah sakit untuk memastikan pasien gagal ginjal tetap bisa dilayani. Mereka tidak boleh ditolak, meskipun status kepesertaannya nonaktif,” ujar Cahya.
Meski demikian, para pasien dan keluarganya mengaku kebingungan. Banyak dari mereka yang baru mengetahui status nonaktif saat akan berobat. Seorang pasien gagal ginjal di Sleman, yang enggan disebut namanya, mengaku terpaksa membayar sendiri biaya cuci darah karena khawatir terlambat ditangani.
“Saya sudah menjalani cuci darah dua kali seminggu. Kalau sampai terlewat, kondisi saya bisa kritis. Saya bingung harus bagaimana,” keluhnya.
Persoalan ini juga menjadi perhatian Komisi IX DPR RI. Anggota Komisi IX, Edy Wuryanto, mendesak BPJS Kesehatan untuk segera menyelesaikan masalah ini. Ia meminta agar data kepesertaan diperbarui secara berkala, dan pasien kronis tidak dirugikan oleh masalah administratif.
“Jangan sampai ada pasien yang meninggal hanya karena masalah administrasi. BPJS harus lebih proaktif dalam mengelola data dan memberikan informasi kepada peserta,” tegas Edy.
Hingga berita ini diturunkan, BPJS Kesehatan Cabang Sleman masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap 22.000 peserta yang nonaktif. Mereka berjanji akan mengaktifkan kembali kepesertaan yang memenuhi syarat dalam waktu dekat.
Bagi pasien gagal ginjal, waktu sangat berharga. Setiap keterlambatan cuci darah bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, semua pihak diharapkan bergerak cepat agar layanan kesehatan bagi mereka tidak terputus.