Tembus 2.191 Kasus HIV/AIDS di Kendal, Edukasi Pelajar dan Santri Digenjot

Home blog Tembus 2.191 Kasus HIV/AIDS di Kendal, Edukasi Pelajar dan Santri Digenjot
Tembus 2.191 Kasus HIV/AIDS di Kendal, Edukasi Pelajar dan Santri Digenjot
Tembus 2.191 Kasus HIV/AIDS di Kendal, Edukasi Pelajar dan Santri Digenjot

Kabupaten Kendal mencatatkan angka yang memprihatinkan terkait kasus HIV/AIDS. Hingga saat ini, total kasus yang terdata mencapai 2.191 jiwa. Angka ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan upaya pencegahan, terutama di kalangan generasi muda.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, dr. Ferinanda, mengungkapkan bahwa penularan HIV/AIDS sebagian besar terjadi melalui hubungan seksual berisiko dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Untuk menekan laju penularan, pihaknya memperkuat program edukasi menyasar pelajar dan santri di wilayah tersebut.

“Edukasi diberikan secara intensif di sekolah-sekolah dan pondok pesantren. Kami ingin anak-anak muda memahami bahaya HIV/AIDS dan cara mencegahnya,” ujar dr. Ferinanda dalam keterangannya, Kamis (20/7/2023).

Program edukasi ini mencakup penyuluhan tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penggunaan kondom, serta deteksi dini melalui tes HIV. Pemerintah juga menggandeng organisasi masyarakat dan lembaga swadaya untuk menjangkau kelompok rentan.

Langkah Konkret Pencegahan

Selain edukasi, Dinas Kesehatan Kendal juga memperluas akses layanan konseling dan tes HIV secara gratis di puskesmas dan rumah sakit. Bagi warga yang terdeteksi positif, mereka akan mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) secara gratis untuk menekan jumlah virus dalam tubuh.

“Kami juga mendorong keterbukaan dan mengurangi stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Stigma seringkali membuat mereka enggan berobat dan justru memperburuk kondisi,” tambahnya.

Data menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS di Kendal didominasi oleh usia produktif, yaitu 25-49 tahun. Namun, kasus pada remaja usia 15-24 tahun juga mulai mengkhawatirkan. Oleh karena itu, pendekatan kepada pelajar dan santri menjadi prioritas.

Pemerintah berharap dengan edukasi yang masif, kesadaran masyarakat akan bahaya HIV/AIDS meningkat, sehingga angka kasus baru bisa ditekan. “Kami optimis dengan kerja sama semua pihak, target eliminasi HIV/AIDS pada 2030 bisa tercapai,” pungkas dr. Ferinanda.