
Sebanyak 119 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Ba’a, Nusa Tenggara Timur, mengikuti pemeriksaan kesehatan untuk deteksi dini HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya preventif dalam mengendalikan penyebaran penyakit menular di lingkungan pemasyarakatan.
Pemeriksaan yang dilakukan secara sukarela ini melibatkan petugas kesehatan dari puskesmas setempat. Mereka melakukan skrining dengan metode tes cepat (rapid test) untuk HIV, serta pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk IMS lainnya seperti sifilis dan gonore.
Kepala Lapas Ba’a, Agustinus G. Bria, menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk memberikan layanan kesehatan yang optimal bagi warga binaan. “Kami ingin memastikan bahwa setiap warga binaan mendapatkan akses kesehatan yang layak, termasuk deteksi dini penyakit menular,” ujarnya.
Selain pemeriksaan, petugas juga memberikan edukasi tentang pencegahan HIV dan IMS, termasuk pentingnya penggunaan kondom dan menghindari perilaku berisiko. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga binaan tentang kesehatan reproduksi dan seksual.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari warga binaan. Salah seorang peserta, yang enggan disebutkan namanya, mengaku senang bisa memeriksakan kesehatannya secara gratis. “Saya jadi tahu kondisi kesehatan saya. Ini sangat membantu,” katanya.
Dengan adanya skrining ini, diharapkan kasus HIV dan IMS di Lapas Ba’a dapat terdeteksi lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan segera. Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menekan angka penyebaran penyakit menular di Indonesia.