
Nabire, Papua Tengah, menghadapi tantangan serius dalam upaya pemeriksaan dan penanganan HIV/AIDS. Salah satu kendala utama yang diidentifikasi adalah tingginya mobilitas para pekerja seks di wilayah tersebut.
Menurut laporan dari RRI.co.id, pergerakan pekerja seks yang dinamis membuat petugas kesehatan kesulitan melacak dan memberikan layanan pemeriksaan secara berkelanjutan. Mereka sering berpindah tempat, sehingga data dan pengobatan menjadi tidak maksimal.
Kepala Dinas Kesehatan Nabire, dr. Irianto S. Mambor, mengungkapkan bahwa kondisi ini memerlukan pendekatan khusus. “Kami harus bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk komunitas dan pemangku kepentingan lokal, untuk menjangkau mereka,” ujarnya.
Selain itu, stigma sosial terhadap pekerja seks juga menjadi hambatan. Banyak dari mereka enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan. Oleh karena itu, sosialisasi yang lebih humanis dan rahasia sangat diperlukan.
Pemerintah daerah pun terus berupaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini HIV. Langkah-langkah seperti penyediaan layanan tes keliling dan konseling gratis diharapkan dapat memutus rantai penularan di Nabire.