Inovasi Mahasiswa UI: Cincau Perdu Disulap Jadi Makanan Cetak 3D untuk Pasien Stroke dan Lansia

Home blog Inovasi Mahasiswa UI: Cincau Perdu Disulap Jadi Makanan Cetak 3D untuk Pasien Stroke dan Lansia
Inovasi Mahasiswa UI: Cincau Perdu Disulap Jadi Makanan Cetak 3D untuk Pasien Stroke dan Lansia
Inovasi Mahasiswa UI: Cincau Perdu Disulap Jadi Makanan Cetak 3D untuk Pasien Stroke dan Lansia

Tim peneliti dari Universitas Indonesia (UI) berhasil menciptakan terobosan baru di bidang pangan, yaitu mengolah cincau perdu menjadi makanan yang dapat dicetak dengan teknologi 3D. Inovasi ini dirancang khusus untuk membantu pasien stroke dan para lansia yang kerap kesulitan mengonsumsi makanan biasa.

Apa Itu Makanan Cetak 3D dari Cincau Perdu?

Makanan cetak 3D adalah teknologi yang memungkinkan bahan makanan diubah menjadi bentuk yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi. Dalam penelitian ini, tim UI menggunakan cincau perdu (Premna oblongifolia) sebagai bahan dasar. Cincau perdu dikenal memiliki tekstur kenyal dan kaya akan serat, sehingga cocok diolah menjadi makanan yang lembut dan mudah ditelan.

Manfaat untuk Pasien Stroke dan Lansia

Pasien stroke dan lansia sering mengalami masalah disfagia atau kesulitan menelan. Dengan makanan cetak 3D berbahan cincau perdu, mereka tetap bisa mendapatkan asupan nutrisi tanpa harus khawatir tersedak. Selain itu, bentuk makanan yang dicetak bisa disesuaikan dengan kebutuhan, seperti bentuk kecil, lembut, dan menarik secara visual untuk meningkatkan nafsu makan.

Proses Pembuatan dan Keunggulan

Proses pembuatan makanan ini dimulai dengan ekstraksi cincau perdu, kemudian dicampur dengan bahan tambahan alami untuk menghasilkan tekstur yang pas. Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam printer 3D khusus makanan. Keunggulan utama dari produk ini adalah:

  • Teksturnya yang lembut dan mudah ditelan
  • Kaya serat dan nutrisi alami
  • Bebas bahan pengawet dan pewarna buatan
  • Dapat disesuaikan bentuk dan ukurannya sesuai kondisi pasien

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi pangan yang lebih baik bagi kelompok rentan, sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi pangan di Indonesia.