Kisah Warga Pekanbaru saat Asma Kambuh di Tengah Kabut Asap Kebakaran Hutan: Inhaler Tak Berhasil, Rasa Sakit Luar Biasa

Home blog Kisah Warga Pekanbaru saat Asma Kambuh di Tengah Kabut Asap Kebakaran Hutan: Inhaler Tak Berhasil, Rasa Sakit Luar Biasa
Kisah Warga Pekanbaru saat Asma Kambuh di Tengah Kabut Asap Kebakaran Hutan: Inhaler Tak Berhasil, Rasa Sakit Luar Biasa
Kisah Warga Pekanbaru saat Asma Kambuh di Tengah Kabut Asap Kebakaran Hutan: Inhaler Tak Berhasil, Rasa Sakit Luar Biasa

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, membawa dampak serius bagi kesehatan warga. Sejumlah warga melaporkan bahwa penyakit asma yang mereka derita kambuh dengan tingkat keparahan yang tinggi, bahkan alat bantu napas seperti inhaler tidak lagi mempan meredakan sesak napas yang mereka alami.

Pengalaman Pahit Warga Pekanbaru

Seorang warga Pekanbaru bernama Rina (34) menceritakan pengalaman pahitnya saat asma kambuh di tengah kabut asap yang pekat. Menurutnya, serangan asma yang ia rasakan kali ini sangat berbeda dan lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Inhaler yang biasanya menjadi andalan untuk meredakan sesak napas mendadak tidak memberikan efek apa pun. Ia harus berjuang keras untuk bisa bernapas lega.

“Rasanya sangat menyakitkan, dada seperti tertekan dan napas terasa berat sekali. Saya sudah menggunakan inhaler beberapa kali, tapi tidak ada perubahan. Saya sampai harus ke rumah sakit untuk mendapatkan bantuan oksigen,” ujar Rina dengan suara bergetar.

Kabut Asap Makin Parah

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara di Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir berada pada kategori berbahaya. Konsentrasi partikel halus (PM2.5) yang sangat tinggi membuat kabut asap sulit terurai dan terus menyelimuti kota. Kondisi ini memicu gangguan pernapasan pada banyak warga, terutama mereka yang memiliki riwayat asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Langkah Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Pemerintah daerah dan tenaga kesehatan mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker khusus anti-partikel (N95 atau KN95), serta menyediakan alat pembersih udara di dalam rumah. Bagi penderita asma, disarankan untuk selalu membawa obat-obatan tambahan dan segera mencari pertolongan medis jika inhaler tidak lagi efektif.

“Jangan menunggu sampai sesak napas semakin parah. Jika inhaler tidak mempan, segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, seperti terapi oksigen atau obat-obatan intravena,” imbau dr. Andi, dokter spesialis paru di salah satu rumah sakit di Pekanbaru.

Dampak Karhutla pada Kesehatan Masyarakat

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun di Sumatera dan Kalimantan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Partikel halus dalam asap dapat masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan iritasi, peradangan, serta memperburuk kondisi penyakit kronis. Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan menjadi kelompok yang paling rentan.

Warga berharap pemerintah dapat segera mengatasi masalah karhutla ini secara tuntas, baik melalui penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan maupun dengan menyediakan solusi jangka panjang yang lebih efektif. Sementara itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan individu menjadi kunci untuk mengurangi risiko kesehatan di tengah kondisi darurat kabut asap.