
Pekanbaru, Riau – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti kota Pekanbaru, memicu krisis kesehatan bagi warga, terutama penderita asma. Sejumlah warga menceritakan pengalaman mengerikan saat serangan asma mereka kambuh di tengah kondisi udara yang semakin memburuk.
Salah seorang warga, Andi (35), mengaku inhaler yang biasa ia andalkan untuk meredakan sesak napas mendadak tidak lagi mempan. “Biasanya sekali semprot langsung lega, tapi kemarin saya semprot berkali-kali tetap sesak. Rasanya sangat menyakitkan, seperti dada mau pecah,” ujarnya kepada Kompas.com.
Andi menambahkan, ia terpaksa mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat karena kondisinya semakin kritis. “Saya sampai harus dibawa ke puskesmas. Di sana saya dapat oksigen dan obat tambahan,” ceritanya.
Pengalaman serupa juga dialami oleh Dewi (28), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan padat penduduk. Ia mengaku serangan asmanya kambuh saat tengah malam. “Saya terbangun dengan napas tersengal-sengal. Suami saya langsung mencari masker dan membawa saya ke rumah sakit. Perjalanan ke rumah sakit pun terasa sangat lama karena kabut asap tebal,” tuturnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, dr. Faisal, mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker N95 jika terpaksa keluar rumah. “Kami juga menyiagakan puskesmas dan rumah sakit untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan,” jelasnya.
Kabut asap karhutla di Riau memang menjadi masalah tahunan. Namun, tahun ini dampaknya dirasakan lebih berat oleh masyarakat. Pemerintah daerah terus berupaya melakukan pemadaman dan modifikasi cuaca untuk mengurangi intensitas asap.
Bagi penderita asma, kondisi ini menjadi ujian berat. Mereka harus selalu siap sedia dengan obat-obatan darurat dan segera mencari bantuan medis jika gejala tidak kunjung reda. Kisah Andi dan Dewi menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana asap.