Penelitian BRIN: Vape Tingkatkan Risiko Diabetes, Efeknya Baru Terasa Bertahun-tahun Kemudian

Home blog Penelitian BRIN: Vape Tingkatkan Risiko Diabetes, Efeknya Baru Terasa Bertahun-tahun Kemudian
Penelitian BRIN: Vape Tingkatkan Risiko Diabetes, Efeknya Baru Terasa Bertahun-tahun Kemudian
Penelitian BRIN: Vape Tingkatkan Risiko Diabetes, Efeknya Baru Terasa Bertahun-tahun Kemudian

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fakta mengejutkan tentang bahaya rokok elektrik atau vape. Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan vape secara rutin dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes tipe 2.

Yang lebih mengkhawatirkan, efek dari kebiasaan ini tidak langsung dirasakan dalam waktu dekat. Dampaknya baru akan muncul bertahun-tahun setelah seseorang mulai menggunakan vape. Hal ini membuat banyak pengguna tidak menyadari bahaya yang mengintai kesehatan mereka.

Mekanisme Risiko Diabetes dari Vape

Para peneliti BRIN menjelaskan bahwa kandungan zat kimia dalam cairan vape dapat mengganggu fungsi pankreas. Pankreas adalah organ yang bertugas memproduksi insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah. Ketika pankreas terganggu, produksi insulin menurun, dan risiko diabetes pun meningkat.

Selain itu, bahan-bahan seperti propilen glikol dan gliserin yang terdapat dalam liquid vape dapat memicu resistensi insulin. Resistensi insulin adalah kondisi di mana sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik, sehingga gula darah sulit dikendalikan.

Fakta yang Perlu Diwaspadai

  • Risiko diabetes akibat vape tidak langsung terlihat, melainkan berkembang secara perlahan dalam jangka panjang.
  • Banyak pengguna vape yang tidak menyadari bahwa kebiasaan ini dapat merusak metabolisme tubuh.
  • Penelitian ini menjadi peringatan serius bagi para perokok elektrik, terutama yang masih muda.

Dengan temuan ini, BRIN mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan vape. Jika Anda atau orang terdekat memiliki kebiasaan ini, sebaiknya segera konsultasikan dengan tenaga medis untuk memeriksakan kadar gula darah secara rutin.

Artikel ini disadur dari laporan radartv.disway.id yang mengutip hasil studi BRIN. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui tautan sumber yang tersedia.