Ibu Hamil Berisiko Preeklamsia? Dokter Bayu Ungkap Faktor Pemicunya

Home blog Ibu Hamil Berisiko Preeklamsia? Dokter Bayu Ungkap Faktor Pemicunya
Ibu Hamil Berisiko Preeklamsia? Dokter Bayu Ungkap Faktor Pemicunya
Ibu Hamil Berisiko Preeklamsia? Dokter Bayu Ungkap Faktor Pemicunya

Kehamilan merupakan fase yang penuh tantangan bagi setiap ibu. Salah satu risiko yang kerap mengintai adalah preeklamsia. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Bayu, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor spesifik yang membuat sebagian ibu hamil lebih rentan terkena kondisi tersebut.

Apa Itu Preeklamsia?

Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kerusakan organ, biasanya pada ginjal. Kondisi ini bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat.

Faktor Risiko Utama Menurut dr. Bayu

  • Riwayat Hipertensi Sebelum Hamil: Ibu yang sudah memiliki tekanan darah tinggi sebelum hamil memiliki risiko lebih tinggi. Jaringan pembuluh darah yang sudah tidak prima akan semakin terbebani saat kehamilan.
  • Kehamilan Pertama atau Jarak Kehamilan Terlalu Jauh: Sistem imun tubuh pada kehamilan pertama atau setelah jeda panjang cenderung kurang siap, sehingga rentan terjadi gangguan pada plasenta. Ini bisa memicu reaksi inflamasi yang berujung preeklamsia.
  • Berusia di Atas 35 Tahun: Usia lanjut saat hamil sering disertai penurunan fungsi organ dan kesehatan pembuluh darah, memperbesar kemungkinan munculnya preeklamsia.
  • Obesitas atau Kelebihan Berat Badan: Berat badan berlebih saat hamil meningkatkan beban metabolisme dan tekanan pada sistem kardiovaskular, sehingga risiko preeklamsia naik signifikan.
  • Riwayat Preeklamsia pada Kehamilan Sebelumnya: Jika seorang ibu pernah mengalami preeklamsia sebelumnya, kemungkinan besar akan terulang pada kehamilan berikutnya.
  • Kehamilan Ganda: Hamil anak kembar atau lebih membuat plasenta lebih besar dan memproduksi lebih banyak hormon, yang bisa memicu tekanan darah tinggi lebih awal.
  • Penyakit Kronis: Ibu yang menderita diabetes, penyakit ginjal, atau gangguan autoimun harus lebih waspada karena kondisi ini memperburuk respons tubuh terhadap kehamilan.

dr. Bayu menegaskan bahwa deteksi dini melalui pemeriksaan rutin tekanan darah dan urin sangat penting. "Ibu hamil wajib memantau tekanan darah setiap kunjungan ke dokter. Kalau ada gejala seperti sakit kepala berat, pandangan kabur, atau bengkak di kaki dan wajah, segera periksakan," ujarnya.

Selain faktor medis, gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi cukup, olahraga ringan, dan istirahat cukup bisa membantu menurunkan risiko. Dengan mengenali faktor – faktor tersebut, ibu hamil bisa mengambil langkah preventif lebih awal.