
Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) akhirnya memberikan tanggapan terkait kekhawatiran publik soal kemungkinan efek samping kehilangan ingatan pada anak yang diduga akibat keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pernyataan resminya, pakar IDAI menegaskan bahwa belum ada studi ilmiah yang membuktikan kaitan langsung antara MBG dan gangguan memori.
Meski demikian, para ahli tidak menampik bahwa beberapa kasus keracunan pangan yang parah, terutama yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri atau logam berat, berpotensi memicu komplikasi neurologis. Gejala seperti kebingungan, lemas, atau bahkan penurunan fungsi kognitif bisa terjadi jika penanganan medis terlambat dilakukan.
Penyebab Gangguan Ingatan pada Anak
Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Dr. Nurul Aini Sp.A(K), kondisi kehilangan ingatan pada anak biasanya bersifat multifaktorial. Faktor utamanya bisa berupa infeksi berat, malnutrisi, atau paparan zat beracun dalam jumlah signifikan.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada laporan kasus kehilangan ingatan yang secara spesifik terkait dengan konsumsi MBG. Publik diminta tidak langsung menyimpulkan sebelum ada hasil investigasi epidemiologi yang komprehensif.
Langkah Pencegahan yang Direkomendasikan
IDAI mengingatkan pentingnya pengawasan mutu dan rantai distribusi pangan, terutama untuk program yang menjangkau jutaan anak sekolah. Beberapa rekomendasi yang diajukan antara lain:
- Memastikan setiap menu MBG telah melalui uji laboratorium untuk bebas dari bakteri patogen seperti Salmonella atau E. coli.
- Melakukan edukasi kepada para pengelola kantin dan penyedia jasa boga tentang cara penyimpanan serta penyajian makanan yang higienis.
- Menyiapkan prosedur tanggap darurat di setiap sekolah jika ditemukan gejala keracunan massal.
Kesimpulan
Pakar IDAI berharap masyarakat tidak panik, namun tetap waspada. Program MBG sendiri telah terbukti membantu memperbaiki status gizi anak di berbagai daerah. Yang diperlukan saat ini adalah pengawasan ketat dan respons cepat dari semua pihak jika menemukan kejadian tidak diinginkan.
Sumber berita: detikHealth