Mahasiswa UGM Ciptakan BREIT: Inovasi Pemetaan Kanker Payudara Tanpa Radiasi

Home blog Mahasiswa UGM Ciptakan BREIT: Inovasi Pemetaan Kanker Payudara Tanpa Radiasi
Mahasiswa UGM Ciptakan BREIT: Inovasi Pemetaan Kanker Payudara Tanpa Radiasi
Mahasiswa UGM Ciptakan BREIT: Inovasi Pemetaan Kanker Payudara Tanpa Radiasi

Para mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan inovasi di bidang kesehatan. Mereka menciptakan sebuah perangkat bernama BREIT yang dirancang untuk memetakan kanker payudara tanpa menggunakan radiasi. Inovasi ini dianggap sebagai langkah cerdas dalam mendeteksi dan memetakan kanker payudara secara lebih aman.

BREIT, singkatan dari Breast Cancer Intelligent Mapping Tool, merupakan alat yang memanfaatkan teknologi canggih untuk menghasilkan peta detail dari jaringan payudara. Dengan demikian, dokter dapat mengidentifikasi lokasi dan ukuran tumor secara akurat tanpa harus menggunakan metode radiologi konvensional yang melibatkan paparan radiasi.

Keunggulan Perangkat BREIT

Salah satu keunggulan utama perangkat ini adalah kemampuannya untuk memetakan kanker payudara tanpa radiasi. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi pasien yang khawatir terhadap efek samping radiasi. Selain itu, tim mahasiswa UGM juga mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam perangkat BREIT untuk meningkatkan akurasi pemetaan.

Proses penggunaan BREIT juga diklaim lebih cepat dan nyaman bagi pasien. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik frekuensi rendah yang aman bagi tubuh. Data yang diperoleh kemudian diproses oleh sistem AI untuk menghasilkan peta tiga dimensi dari struktur payudara.

Harapan ke Depan

Tim mahasiswa UGM berharap inovasi BREIT dapat menjadi solusi alternatif yang lebih aman dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia dalam deteksi kanker payudara. Mereka juga berencana untuk terus mengembangkan alat ini agar dapat diintegrasikan dengan sistem kesehatan nasional.

Dengan adanya BREIT, diharapkan angka deteksi dini kanker payudara dapat meningkat, sehingga penanganan penyakit ini dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Inovasi ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di kancah global dalam menciptakan teknologi kesehatan yang bermanfaat.